Wednesday, March 22, 2006

Wanita Nelayan: Antara Peran Domestik & Produktif

Abstract

This article summaries the important roles of women in coastal rural areas of Indonesia. They are not only playing important role on domestic-based activities, but also in the productive activities to support their family economy. The women plays important role as a fishery product traders, processors, and other marketing-based activities. They also do pioneering on the development of rural-based tourism in the coastal areas, for example at the southern coast of Yogyakarta. Rural development that integrate the women participation is required for the sustainability of the coastal economy (pesisir).


Orientasi pembangunan yang berbasis perikanan dan kelautan di Selatan Jawa akhir-akhir ini semakin gencar dikumandangkan. Daerah-daerah yang masyarakatnya secara historis tidak memiliki akar sejarah yang kuat dalam menggantungkan hidup mereka dari hasil laut juga berlomba-lomba mengeluarkan anggaran daerahnya untuk pengembangan wilayah pesisir. Hal ini nampak dari rencana pembangunan pelabuhan baik di Bantul, Kulonprogo, Gunungkidul, Purworejo, Kebumen, dan daerah-daerah lainnya. Kondisi semacam ini sangat positif jika masing-masing daerah dapat berbagi peran dengan baik, sehingga dengan dukungan tersebut pembangunan pesisir akan memiliki sokongan yang kuat menuju keberhasilan.

Wanita merupakan salah satu komponen yang sangat penting dalam pembangunan pesisir karena posisinya yang strategis dalam kegiatan berbasis perikanan dan kelautan sebagai pedagang pengecer, pengumpul ikan, pedagang besar, buruh upahan, maupun tenaga pengolah hasil perikanan. Namun demikian, dalam berbagai aspek kajian ataupun program-program pembangunan pesisir mereka tidak banyak tersentuh. Ketika berbicara tentang nelayan yang terlintas dalam pikiran adalah kaum pria yang sebagian atau seluruh hidupnya berjuang menghadapi gelombang besar atau angin kencang untuk memperoleh hasil tangkapan ikan. Pikiran demikianlah yang mendorong lahirnya program pembangunan perikanan yang bias gender seperti nampak pada berbagai program pemberdayaan masyarakat pesisir. Kondisi demikian telah dianggap sebagai hal yang lumrah karena dalam budaya kita, wanita telah lama dikonstruksi secara sosial maupun budaya untuk menjadi ”kanca wingking” yang hanya berkutat pada berbagai urusan rumah tangga bahkan seperti dikatakan Djohan (1994) geraknyapun dibatasi dalam lingkup rumah tangga. Sehingga artikulasi peran wanita nelayan dalam kehidupan sosial dan budaya di pesisir menjadi kurang atau tidak tampak.

Keterbatasan ekonomi keluargalah yang menuntut wanita nelayan termasuk anak-anak mereka bekerja di daerah pesisir. Dalam kegiatan perikanan laut wanita nelayan berperan sangat strategis terutama pada ranah pasca panen dan pemasaran hasil perikanan. Di beberapa wilayah bahkan peranan wanita nelayan, juga sering menyentuh wilayah yang dianggap sebagai dunia kerja kaum laki-laki yaitu penangkapan ikan seperti yang banyak ditemukan dalam kegiatan penangkapan kepiting di daerah mangrove Teluk Bintuni Papua. Peran produktif ini, bagi wanita nelayan bahkan sering mengalahkan peran reproduktif atau domestiknya. Hasil kajian Widaningroem dkk. (1998) di pantai selatan Yogyakarta menunjukkan bahwa walaupun peran reproduktif yang dilakukan oleh wanita seperti membersihkan rumah, mencuci, dan menyiapkan makanan mencapai angka 80% dari alokasi waktu setiap harinya, ketika mereka melakukan aktivitas produktif di pesisir, peran tersebut ditinggalkan sementara dan diserahkan kepada kepada anak atau ibu/nenek mereka. Kontribusi nelayan ini terhadap pendapatan keluargapun, dapat mencapai separuh dari pendapatan suami.

Pembangunan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas manusia seharusnya memperhatikan kondisi wanita maupun pria atau bersifat gender sensitive. Peran wanita dapat dioptimalkan apabila faktor penghambat yang melingkupinya teridentifikasi dengan baik. Walaupun secara kuantitatif jumlah wanita lebih banyak dari kaum pria, belum banyak rencana pembangunan yang benar-benar mendasarkan pada kebutuhan kaum wanita, padahal mereka bekerja pada dua fungsi sekaligus, reproduktif dan produktif. Pengembangan program pembangunan yang tidak bias gender memiliki arti yang sangat penting di daerah pesisir disebabkan tidak hanya karena secara kuantitatif jumlah kaum wanita lebih banyak, tetapi karena peran wanita nelayan yang sangat strategis. Partisipasi wanita dalam berbagai aktivitas produktif di pesisir juga telah banyak terbukti mampu mempertahankan keberlanjutan ekonomi rumah tangga nelayan. Kesempatan peran wanita nelayan juga memiliki peluang yang cukup baik karena suami mereka memiliki kebiasan yang baik yaitu menyerahkan hasil usaha melaut mereka kepada kaum wanita dan sekaligus memberikan kepercayaan kepada wanita untuk mengelola keuangan tersebut. Hal ini tentunya menjadikan wanita lebih mandiri dan berani memutuskan hal-hal penting bagi keluarga dan dirinya. Dukungan internal tersebut akan lebih optimal jika program-program intervensi oleh pemerintah juga menyentuh kaum wanita nelayan.

Berbagai program pembangunan ke depan perlu menyediakan kesempatan kepada wanita nelayan untuk memiliki peluang yang sejajar dengan pria. Optimalisasi peran wanita nelayan dalam pembangunan pesisir hanya dapat dilakukan melalui integrasi kebijakan pembangunan dan pemberdayaan perempuan ke dalam kebijakan nasional, propinsi atau kabupaten/kota baik pada ranah perencanaan, pelaksanaan, pemantauan maupun evaluasi pembangunan. Upaya ini tidaklah mudah dilakukan jika tidak didukung adanya kesadaran dan kepekaan para pengambil kebijakan tentang kesetaraan dan keadilan gender yang diikuti oleh program-program yang dapat menjamin keterlibatan para wanita.

Pembagian peran yang sejajar khususnya dari aspek ekonomi perikanan dimana wanita yang mengurusi pasca panen dan pemasaran hasil perikanan termasuk pengawetan, pengolahan, distribusi dan pemasaran hasil, sementara pria pada aspek produksi melalui kegiatan penangkapan ikan dapat menjadi salah satu cara mendorong partisipasi wanita yang lebih baik. Peran ini didasari pada berbagai kesulitan dalam kegiatan produksi perikanan laut. Penguatan aspek pasca panen dan pemasaran tidak hanya bermakna bagi para wanita nelayan, tetapi aktivitas perikanan secara keseluruhan karena aspek ini menjadi titik terlemah kegiatan produksi perikanan. Program penguatan dapat dilakukan misal melalui penguatan kelembagaan usaha berbasis kelompok. Penguatan ini memiliki makna positif karena dapat memperkuat bargaining position para wainta terhadap pesaing yang umumnya kaum pria dengan modal yang lebih besar, mempermudah akses terhadap modal, pasar, informasi dan teknologi. Pada akhirnya, pengembangan program pembangunan yang berbasis perikanan dan kelautan yang terpadu dengan kegiatan lainnya seperti wisata bahari merupakan peluang besar bagi aktualasisasi peran wanita nelayan.


Oleh:
Suadi
Jurusan Perikanan UGM
e-mail: suadi(at)ugm(dot)ac(dot)id


(Keterangan foto: Selepas magrib di Pantai Kuwaru, istri nelayan sedang mengolah ikan, yang sebenarnya dilakukan bersama dengan anak-anak dan suaminya)

9 comments:

pelajar said...

terimakasih sudah memberikan data yang kurang lebihnya berguna bagi saya dan penelitian saya...

Anonymous said...

Artikel yang sangat menarik. Peran wanita ternyata dalam sektor perikanan cukup dominan, karena pemasaran dan pengolahan ikan banyak ditangani wanita (dan ditinjau dari segi ekonomi sendiri, salah satu hal yang paling menentukan keberlangasungan produksi adalah pemasaran yang baik). Pengolahan ikan juga menawarkan kemungkinan perbaikan ekonomi, sebab nelayan dapat menjual ikan dengan harga yang lebih tinggi setelah diolah bila dibandingkan menjual barang mentah.
Saat ini saya sedang melakukan penelitian tentang perancangan kawasan pesisir pantai, khususnya area pelabuhan dan tempat pelelangan ikan. Apabila ada data yang berkaitan dengan perancangan kawasan, khususnya tentang aktivitas perikanan yang mampu memberdayakan potensi wanita, saya sangat tertarik.

Thanks buat artikelnya =)

martha.marisca@gmail.com

Suadi said...

Thanks Marta, semoga bermanfaat. Semoga sukses dengan penelitiannya. Anyway, data seperti apa yang dimaksud?

suadi@ugm.ac.id

tyas said...

nice writing mas, saya pernah terlibat dalam workshop pemberdayaan pesisir, dan salah satu bahasannya ttg isu gender..makasih ya =)

tyas
ilmu kelautan-IPB

Suadi said...

Thank Tyas, sudah lama tidak membuat corat-coret di blog ini. Anyway, wanita adalah aktor yang sangat penting dalam pembangunan pedesaan. Program pembangunan perlu lebih banyak lagi menyentuh kelompok ini, saya kira.

Anonymous said...

artikel ini sangat membantu mahasiswa perikanan yang sedang mempelajari sosiologi perikanan

Pelabuhan Perikanan Pantai Idi said...

assalamu'alaikum wr wb pak suadi
saya dlu adlh bekas anak bimbingan bpk waktu di perikanan dlu. saya dan beberapa teman2 yg lain di lingk prov.aceh berencana utk melakukan kegitan2 dlm rangka pemberdayaan wanita nelayan di Aceh Timur. Ide ini sudah mulai tidak tahan lama diendapkan dlm otak dan pikiran kami. Tapi satu hal yg sy masih kontra dengan beberapa ide yg bpk sampaikan adalah mengenai peran wanita nelayan yg dikaitkan dgn adanya kesetaraan gender. maaf mgkn saya adalah salah satu perempuan yg menolak paham hasil racikan kaum kapitalis ini. persamaan hak dalam mendapatkan kesempatan untuk mengakses ilmu pengetahuan dan teknologi antra wanita dan pria adalah salah satu yg diperbolehkan.Di sisi lain tetap saja ada kewajiban yg ditetapkan bagi masing2 pihak baik khusus untuk wanita saja maupun laki2 saja atau bahkan ada untuk keduanya. ini yg harus dipilah-pilah, jgn disamakan jadi satu karena akan ada kompromi terhadap 2 peran wanita seperti yg bpk utarakan jika memang benar2 terjadi pencampuradukan peranan wanita. Apalagi ide2 untuk memproduktifkan wanita nelayan dengan menabrak dan bahkan berkompromi dengan perannya di ranah domestik kerap digencarkan kaum2 feminis yang kita tau kepentingan terselubung mereka sesungguhnya adalah berseberangan dengan hukum Islam. salut untuk ide2 bpk yang lainnya.

Anonymous said...

Terima kasih banyak untuk menulis ini, itu unbelieveably informatif dan menceritakan ton

Anonymous said...

Setiap berita tentang menghilangnya mistis Sebuah pembelot itu ?