Palu sudah diketuk beberapa minggu yang lalu bahwa si Lusi hasil ulah Lapindo segera akan dibuang langsung ke laut. Tapi upaya ini nampak belum terealisasi dengan baik. Setiap hari mengikuti berita tentang si Lusi ini tentu kita bisa merasakan bagaimana dampak dari kecerobohan yang dilakukan oleh Lapindo. Selain sudah jelas yang setuju, tentu masih banyak keberatan kalo si Lusi dibuang begitu saja ke laut. Kita berharap saja kebijakan yang telah diambil dapat meringankan beban masalah yang ada, bukan PEMERATAAN PENDERITAAN karena di laut bukan hanya ikan yang dikorbankan (pilih ikan apa manusia, begitu kata menteri PU), tapi tidak sedikit manusia yang bergantung padanya. Ini ada beberapa gambar dari "langit" yang dipublikasi oleh Universitas Nasional Singapura. Mari kita simak bersama-sama untuk jadi pelajaran bersama.
Ini peta lokasinya

Gambar ini hasil citra tanggal 6 Oktober 2005

Nah yang ini gambar tanggal 29 Agustus 2006

Untuk lengkapnya silakan berkunjung kesini aja.
3 comments:
Yup, kita priatin sekali dengan bencana si Lusi itu...Kesalahannya dari awal memang project tersebut tanpa pake amdal. Sekarang mau gimana lagi...Buah simalakama memang, dan saya jg yakin, kalau dibuang ke laut atau sungai pun, pasti menuai masalah baru. Yaa, negara kita memang sarat dengan masalah...Pertanyaannya : gimana kondisi geologis tanah di bawah luapan lumpur itu yaa? karena kan materialnya sebagian besar tersembur keluar beribu2 bahkan berjuta2 kubik? Atau jangan2 sekian ribu ke depan lokasi tersebut menjadi gunung berapi...Hee..
saya setuju dengan pendapat anda.
hingga saat ini seolah ada sekat terpisah antara manusia dengan ikan (lingkungan),
padahal menurut saya, itu adalah cara berpikir yang sangat sempit karena manusia hidup selaras dengan lingkungan.
dan menurut saya, pengeboran yang dilakukan di daerah kawasan padat huni - sangat rawan, karena dapat mengancam kelangsungan hidup penduduk sekitar.
Untuk bung franky, saya sekedar meluruskan, kalau tidak salah, sumur yang menyemburkan lumpur itu (sumur Banjar Panji 1) merupakan sumur eksplorasi. Di dalam peraturan migas, jelas tertulis sumur yang masih dalam taraf eksplorasi tidak diwajibkan memiliki amdal. keberadaan amdal di sumur eksplorasi, saat ini juga masih ramai diperdebatkan oleh para pakar lingkungan.
Halo Bang Franky and Mbak Asti. Makasih atas comment-nya. Pertama, tentang amdal nurut saya sih ada atau tidak, disyaratkan atau tidak, mungkin masih sedikit kali ya yang benar patuh dengan dokumen andal-nya. Kasus yang paling gampang kita ingat adalah proyek raksasanya pemerintah sendiri, yaitu pembukaan lahan (gambut) 1 juta ha beberapa tahun silam. Saya sempat membaca dokumen yang ada diperpus IPB (institusi yang ditunjuk untuk melakukan andal sepertinya). Ya nampak ada petak-petakan yang dianjurkan dan yang tidak dianjurkan. Tapi kenyataannya? Toh pemerintah sendiri yang terlalu bernafsu ingin menjaga image swasembada beras. Gimana kira-kira kalo perusahaan kayak lapindo gitu ya, yang melihat margin yang luar biasa?.
Tapi ya, karena ini sudah terlanjur basah (yah sudah mandi sekali...eh dandut eui..he he), gimana nih iming-iming kompesasinya buat yang di pesisir? Benar-benar serius akan ada nggak sih, terus duitnya dari mana dan punya siapa? Waduh, mudah-mudahan bukan janji tinggal janji ya. Ee, kalo ada yang pernah berjanji loh!
Ketiga, soal manusia-lingkungan, ada buku yang menarik dibaca "An Environmental History of the World: Humankind's changing role in the community of life" tulisan J. Donald Douglas (ISBN 0-415-13618-0, kalo mau cari diperpus ya). Nah didalamnya ada banyak cerita bagaimana satu komunitas (dari berbagi belahan dunia) jatuh dan bangun karena ulah pengrusakkan yang dilakukan oleh mereka sendiri. Mudah-mudahan kita tidak terperosok karena kesalahan dalam mengelola "rumah kita". Gambarimashoo!
Post a Comment